18 Kesalahan Fatal yang Bisa Membuat Startup Gagal Bagian 1

Paul Graham merupakan salah satu co-founder Y Combinator, program akselelator startup tahap awal yang berbasis di Silicon Valley, Amerika Serikat. Selain itu Paul Graham juga merupakan seorang blogger.

Di dalam blog pribadinya, ia sering mengulas tentang saran, nasihat atau tips-tips bagi startup dari pengalamannya mendirikan sejumlah startup dan menjadi seorang mentor serta investor di Y Combinator. Berikut salah satu artikelnya yang menarik dan dapat dipelajari oleh para startup, 18 kesalahan fatal yang bisa membuat startup gagal:

Pelajari bagaimana teknik membangun startup dari nol.

1. Satu orang founder

Mendirikan startup seorang diri merupakan hal yang sangat sulit. Walaupun Anda bisa melakukan semua pekerjaan, Anda tetap memerlukan teman untuk berbagai pendapat, membahas ide-ide gila, atau membuat Anda gembira di saat terpuruk.

Jadi menurut Paul, di balik startup yang sukses terdapat tim yang kuat dan idealnya dalam sebuah startup terdiri dari dua atau tidak orang founder.

2. Pemilihan lokasi yang kurang tepat

Anda bisa melihat bagaimana industry lain memilih lokasi. Misalnya industry pertambangan pasti akan memilih daerah yang berpotensi untuk ditimbang, entah itu emas, batu bara, atau bahan pertambangan lainnya.

Baca juga: Waspadai Kesalahan yang Tidak Disadari oleh Founder Startup pada Tahap Anda

Hal tersebut juga perlu diterapkan saat Anda mendirikan startup. Alasan utamanya adalah karena dengan memilih lokasi yang tepat, misalnya kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung, startup Anda akan memiliki potensi yang lebih besar untuk berkembang.

3. Menghindari kompetitor

Apabila ide startup Anda bagus, pasti akan memiliki kompetitor, dan mau tidak mau Anda harus menghadapinya. Namun jika Anda menghindari kompetitor dengan cara mengurangi kualitas atau keuntungan maka hal itu bisa berujung kegagalan pada startup Anda.

Baca juga: Ketahui dan Kenali Masalah Konsumen agar Dapat Menawarkan Produk atau Jasa Anda dengan Tepat

4. Memecahkan maslaah yang sama

Jika Anda melihat startup yang sukses, beberapa diantaranya merupakan “tiruan” dari startup yang sudah ada. Misalnya di Indonesia ada Tokopedia atau Bukalapak, website e-commerce marketplace dengan model bisnis costumer to costumer (C2C). Dua website ini mirip dengan eBay, website e-commerce yang sangat sukses di Amerika Serikat. Hal itu terjadi karena saat Tokopedia dan Bukalapak telah berhasil melokalisasi ide bisnis tersebut agar sesuai dengan kebutuhan pasar tanah air.

Sedangkan apabila Anda ingin meniru startup-startup yang sudah berkembang dan dikenal di Indonesia seperti Facebook dan Google, hal itu bisa dibilang sia-sia. Jadi daripada Anda memecahkan masalah yang sama akan lebih baik mencari masalah lain dan membayangkan bagaimana startup Anda akan memecahkan masalah tersebut.

Baca juga: Teknik Memotivasi Pelanggan Agar Mau Membeli Produk atau Jasa yang Anda Tawarkan

5. Tidak beradaptasi

Di tahap awal pendirian startup, Anda pasti mempunyai sebuah misi atau visi khusus yang ingin diselesaikan. Tapi dalam perjalanan startup Anda, kemungkinan besar hal itu akan berubah seiring perkembangan startup. Misalnya awalnya Anda menggunakan model bisnis business to business (B2B) untuk sebuah produk, dan menemukan bahwa hal itu tidak berhasil. Maka Anda mungkin harus merubah model bisnis untuk menyelesaikan masalah yang berbeda, mungkin dengan merubah model bisnis menjadi business to consumer (B2C).

Banyak startup yang sukses setelah merubah ide awal mereka. Salah satu kisah dari gagal menjadi sukses adalah Twitter. Startup ini awalnya merupakan layanan aggregator podcast yang kemudian berubah menjadi website micro blogging.

Baca juga: 5 Teknik Membangun Perilaku Konsumen dalam Mempengaruhi Keputusannya untuk Membeli Barang atau Jasa Anda

6. Salah merekrut pegawai khususnya programmer

Memilih programmer merupakan salah satu hal penting dalam mendirikan startup. Tapi memiliki programmer yang tepat bukanlah perkara mudah dan walaupun ada jumlahnya sangat sedikit. Programmer tentunya adalah orang yang akan membangun platform Anda, dan apabila salah merekrut, Anda akan ketinggalan jauh dan tersaingi oleh kompetitor.

7. Salah memilih platform

Selain merekrut programmer yang tepat, Anda juga harus memilih platform yang tepat untuk startup Anda. Memilih platform yang salah bisa membebani startup Anda atau yang lebih buruk lagi Anda bisa kehilangan pengguna. Misalnya memilih server untuk website Anda, apabila performa server lambat tentunya pengguna menjadi enggan mengunjungi website Anda.

Paul mengungkapkan caranya adalah dengan mencari programmer yang tepat dan membiarkan mereka memilih platform yang tepat.

Baca juga: Pahami Kerangka Piramida Marketing Sebelum Memulai Bisnis Anda Agar Tidak Bangkrut

8. Menunda-nunda peluncuran

Banyak startup yang menunda-nunda peluncuran startup mereka karena merasa software atau layanan mereka belum siap 100 persen. Beberapa alasan lain seperti tidak terlalu mengerti akar permasalahan yang akan dipecahkan, takut menghadapi konsumen dan takut dihakimi, atau terlalu sibuk mengerjakan hal lain. Semakin lama Anda menunda peluncuran startup, maka semakin lama pula Anda akan mendapat jawaban dari permasalahan tersebut.

9. Merilis produk terlalu dini

Paul mengungkapkan bahwa merilis produk terlalu dini bahkan membunuh lebih banyak startup. Hal ini akan berdampak pada reputasi startup Anda. Apabila meluncurkan terlalu dini, kemudian sejumlah orang mencobanya, dan apabila itu tidak bagus tentunya mereka tidak akan kembali lagi.

Baca juga: Ketahui Strategi Digital Marketing untuk Mengembangkan Omset dalam Bisnis Anda

Lalu kapan waktu yang tepat untuk meluncurkan startup? Paul memberi beberapa saran; Pertama adalah membuat perencanaan yang matang. Kedua adalah mengidentifikasi dua inti permasalahan utama, yaitu apakah startup yang Anda buat itu bermanfaat dan bisa berkembang menjadi proyek lain. Ketiga adalah menyelesaikan proyek tersebut secepat mungkin.

 

NEXT

Post a Comment