18 Kesalahan Fatal yang Bisa Membuat Startup Gagal Bagian 2

Pada artikel sebelumnya sudah membahas 9 kesalahan fatal yang bisa membuat startup Anda gagal. Nah, berikut 9 sisanya yang perlu Anda pahami:

Pelajari juga teknik dalam mengembangkan startup Anda.

10. Tidak memikirkan target pengguna

Apabila Anda membuat sebuah produk untuk orang lain, maka Anda harus membuat produk tersebut sesuai dengan permintaan pengguna dan disertai data yang tepat sebagai acuan. Misalnya apabila Anda ingin membuat sebuah produk khusus anak muda atau pebisnis, Anda harus bicara langsung untuk mengetahui apa kebutuhan mereka. Sehingga produk yanbg Anda buat tepat sasaran.

11. Menggalang dana terlalu sedikit

Sebagian besar startup yang sukses pernah mendapatkan pendanaan. Besar kecil jumlah dana yang diperoleh akan sangat berdampak pada startup Anda. Misalnya bila pendanaan yang Anda peroleh terlalu sedikit, kemungkinan besar startup Anda tidak bisa menyelesaikan proyek.

Baca juga: 18 Kesalahan Fatal yang Bisa Membuat Startup Gagal Bagian 1

Jadi saat berhadapan dengan investor, pastikan jumlah dana yang Anda ajukan cukup untuk menyelesaikan proyek dan membawa startup Anda ke level yang lebih tinggi. Anda mempunyai kendali antara berapa besar uang yang dikeluarkan dan apa tahap selanjutnya. Paul menyarankan untuk mengatur keduanya serendah mungkin: sebisa mungkin untuk tidak mengeluarkan dana sama sekali, dan tujuan utama Anda adalah membuat produk prototipe yang setidaknya siap digunakan.

12. Terlalu boros

Memang sulit membedakan apakah sebuah startup menghabiskan terlalu banyak uang atau mendapatkan pendanaan dengan jumlah yang kecil. Cara termudah untuk mengetahui hal ini adalah dengan membandingkan dengan startup lain. Misalnya apabila mendapat investasi sebesar Rp 500 juta, dan Anda sudah kehabisan uang sebelum mencapai target, itu berarti Anda terlalu boros.

Baca juga: Waspadai Kesalahan yang Tidak Disadari oleh Founder Startup pada Tahap Awal!

Cara terbaik untuk menghabiskan dana adalah merekrut pegawai. Paul memberikan tiga tips bagaimana cara merekrut. Pertama, jangan lakukan itu apabila Anda bisa menghindarinya. Kedua, bayar dengan pembagian saham daripada gaji, tidak saja untuk menghemat uang, tapi juga untuk mengetahui mana orang yang benar-benar berkomitmen. Ketiga, rekrut programmer atau orang yang dapat membantu Anda mendapat pengguna, karena itu adalah dua hal penting yang perlu Anda lakukan pertama.

13. Menggalang dana terlalu banyak

Saat Anda mendapatkan pendanaan dengan jumlah yang besar, hal itu merupakan sebuah kebanggan tersendiri. Semakin besar jumlah investasi yang diperoleh maka semakin lama waktu yang diperlukan untuk mencarinya. Bahkan terkadang waktu untuk mencari pendanaan lebih lama daripada waktu yang dihabiskan untuk mengembangkan startup itu sendiri.

Baca juga: Ketahui dan Kenali Masalah Konsumen agar Dapat Menawarkan Produk atau Jasa Anda dengan Tepat

Jadi Paul memberi saran kepada founder yang sedang mencari pendanaan dari investor untuk menerima tawaran pertama yang menurut Anda tepat. Khususnya apabila Anda mendapat tawaran dari perusahaan terkenal, dengan nilai valuasi yang masuk akal, dan tanpa peraturan yang berbelit-belit. Paul menyarankan untuk mengambil kesempatan ini, sehingga waktu tidak terbuang-buang untuk mencari pendanaan.

14. Manajemen investor yang buruk

Sebagai founder, Anda harus menjaga hubungan dengan investor. Anda tidak boleh mengabaikannya, karena mereka pastinya memiliki hal-hal yang berguna untuk Anda. Tapi Anda juga tidak boleh membiarkan investor menjalankan perusahaan Anda. Karena itu adalah tugas Anda sebagai founder.

Baca juga: Teknik Memotivasi Pelanggan Agar Mau Membeli Produk atau Jasa yang Anda Tawarkan

Seberapa keras Anda harus menjalin hubungan dengan investor biasanya tergantung pada berapa besar pendanaan yang Anda peroleh. Apabila investor memiliki sebagian besar saham, bisa dibilang investor itu adalah bos dan memiliki kontrol yang kuat terhadap startup Anda. Tapi apabila startup Anda berjalan dengan lancar, hal itu bukanlah masalah dan VC biasanya tidak akan ikut campur.

15. Mengorbankan pelanggan demi profit

Paul menjelaskan bahwa membuat sesuatu yang diinginkan dan diperlukan pengguna jauh lebih susah dan lebih penting daripada model bisnis – untuk mendapat uang. Contohnya, Google membuat mesin pencari yang sangat bermanfaat, setelah itu baru mereka memikirkan bagaimana menghasilkan uang dari mesin pencari tersebut.

Baca juga: 5 Teknik Membangun Perilaku Konsumen dalam Mempengaruhi Keputusannya untuk Membeli Barang atau Jasa Anda

16. Tidak mau susah

Apabila Anda seorang founder yang memiliki latar belakang programmer, sadarlah tidak semua hal bisa diselesaikan dengan kode-kode. Anda perlu relasi untuk mengembangkan bisnis. Anda juga perlu bertemu langsung dengan pengguna Anda untuk mengetahui apa yang mereka inginkan. Pergi keluar dan bertemu langsung dengan mereka merupakan cara yang tepat untuk mengetahui hal itu.

17. Konflik antar founder

Konflik antar founder merupakan hal umum yang terjadi, karena satu sama lain memiliki pendapat yang berbeda. Hal ini terjadi di sejumlah startup, dan biasanya founder yang kurang berkomitmen akan keluar. Jika ada tiga founder dan salah satu yang keahlian teknik keluar, itu merupakan masalah yang lebih besar lagi.

Baca juga: Pahami Kerangka Piramida Marketing Sebelum Memulai Bisnis Anda Agar Tidak Bangkrut

Perselisihan ini bisa dihindari apabila mereka lebih berhati-hati dalam memilih co-founder yang akan diajak mendirikan perusahaan. Paul menyarankan jangan pernah mendirikan startup dengan orang yang tidak Anda sukai. Memilihnya hanya lantaran memiliki kemampuan yang Anda perlukan dan tidak ingin mencari yang lain, merupakan kesalahan besar. Orang-orang itu merupakan bagian penting dari startup Anda, jadi jangan pernah berkompromi.

18. Usaha setengah-setengah

Ini merupakan salah satu faktor utama kegagalan sebuah startup. Salah satu cirinya bukanlah orang yang sering membuat kesalahan, tapi orang yang idak melakukan apa-apa sama sekali.

Baca juga: Ketahui Strategi Digital Marketing untuk Mengembangkan Omset dalam Bisnis Anda

Paul mengungkapkan secara statistic, jika ingin menghindari kegagalan, hal utama yang perlu dilakukan adalah meninggalkan pekerjaan utama dan fokus terhadap startup Anda. Sebagian startup gagal karena foundernya tidak meninggalkan pekerjaan utama mereka, dan kebanyakan startup yang sukses karena sang founder melakukannya.

Post a Comment